Sebelum Premium, 3 BBM Ini Lebih Dulu Dihapus Pertamina

VIVA – Pertamina menjadi institusi usaha milik negara, yang bekerja menyediakan pasokan bahan bakar minyak untuk kebutuhan masyarakat Indonesia. Zaman ini, mereka memiliki tiga buatan BBM untuk mesin bensin, yakni Premium, Pertalite dan Pertamax.

Sebelum Premium, 3 BBM Ini Lebih Dulu Dihapus Pertamina

VIVA   – Pertamina menjadi badan jalan milik negara, yang bertugas menyimpan pasokan bahan bakar minyak untuk kebutuhan masyarakat Indonesia. Saat ini, mereka memiliki tiga produk BBM untuk mesin bensin, yakni Premium, Pertalite dan Pertamax.

Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati mengatakan bahwa Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memiliki aturan, perkara standar BBM yang aman bagi kelestarian lingkungan hidup.

Baca juga:   Pertamina Ingin Hapus Premium dan Pertalite, Netizen: Maaf Gak Sengaja

Preskripsi yang dimaksud, yakni Keputusan Menteri LHK nomor 20 tahun 2017 tentang Baku Mutu Emisi Udara Buang Kendaraan Bermotor. Dalam pencetus 3 ayat 2, disebutkan kalau pengujian emisi bahan bakar harus dilakukan dengan BBM dengan  research octane number   91 untuk mesin bensin.

Dari tiga jenis BBM yang dipasarkan Pertamina saat itu, hanya Pertamax yang memiliki RON di atas ambang batas itu. Sementara, spesifikasi Premium yakni RON 88 dan Pertalite RON 90.

“Ada regulasi KLHK, yang menetapkan bahwa untuk melestarikan polusi udara, ada batasan pada RON berapa, di kadar emisi berapa. Jadi, nanti yang kami prioritaskan adalah produk yang ramah lingkungan, ” ujarnya.

Nicke mengaku, saat ini pihaknya masih terus berkomunikasi dengan pemerintah pusat terkait hal tersebut. Sebab, harga jual BBM menjadi salah satu faktor yang sangat mempengaruhi  kelompok.

Bicara soal BBM, Pertamina sebelumnya pernah menyetop penjualan tiga  produk mereka untuk kendaraan bermotor. Dari hasil penelusuran  VIVA Otomotif  di beberapa sumber, Rabu 17 Juni 2020, produk dengan dimaksud adalah Premix,   Super TT dan Bensin Biru.

Pada era 1980-an, Pertamina hanya memiliki satu jenis BBM, yakni Premium dengan RON 83. Karena kebutuhan akan BBM secara RON lebih tinggi, maka lalu mereka menghadirkan Super, yakni petrol dengan RON 95.

Jelang awal 1990-an, RON buat Super dinaikkan angkanya menjadi 98. Demi memenuhi perjanjian internasional soal kerusakan lingkungan akibat timbal, maka Super kemudian diubah menjadi Istimewa TT, yakni singkatan dari Tanpa Timbal.

Biaya produksi Super TT sangat besar, sehingga Pertamina memutuskan untuk menghentikan penjualannya. Mereka lalu menawarkan kepada pihak swasta, buat membuat Premix, kependekan dari Premium Mixture dan memiliki RON 92.

Premix kemudian dinaikkan spesifikasinya, menjadi RON 95. Sayangnya, kebijakan yang berbelit-belit membuat Pertamina memutuskan untuk menyudahinya.

Terakhir, ada Bensin Biru yang memiliki kandungan timbal sangat kecil. BBM jenis ini dibuat istimewa, untuk kendaraan bermesin dua metode atau dua tak. Saat  mesin tersebut tak lagi diizinkan buat diproduksi, maka penjualan Bensin Biru juga ikut berakhir.