Roda Listrik dan Otoped Kini Dipayungi Hukum

VIVA – Kementerian Perhubungan melahirkan Peraturan Menteri yang membahas soal skuter, otopet dan sepeda listrik. Di dalam Permenhub nomor 45 Tahun 2020 tentang Kendaraan Tertentu dengan Menggunakan Dalang Motor Listrik itu, disebutkan tentang persyaratan keselamatan kendaraan dan pengendara, tercatat usianya.

Roda Listrik dan Otoped Kini Dipayungi Hukum

VIVA   –  Kementerian Perhubungan menerbitkan Peraturan Menteri yang membahas perkara skuter, otopet  dan sepeda listrik. Dalam Permenhub  nomor 45 Tahun 2020 tentang Kendaraan Tertentu secara Menggunakan Penggerak Motor Listrik tersebut, disebutkan tentang  persyaratan keselamatan organ dan pengendara, termasuk usianya.

“Apa yang boleh & tidak boleh dalam mengendarai kendaraan listrik ini. Dengan demikian, umum yang ingin menggunakan kendaraan listrik terlindungi, begitu juga pengguna tiang yang lain, ” ujar Eksekutif Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub, Watak Setiadi di Jakarta, dikutip  Selasa 14 Juli 2020.

Selain mengenai pengendara, Permenhub selalu mengatur tentang lajur  yang diperbolehkan untuk dilalui, yakni lajur khusus sepeda dan lajur khusus kendaraan listrik. Soal wilayah, disebutkan kalau yang diizinkan untuk penggunaan juru bicara transportasi ini adalah pemukiman, zona hari bebas kendaraan bermotor, & kawasan wisata.

Agar bisa dikendarai secara sah, kendaraan personal itu wajib dilengkapi lampu utama, sistem rem dan batas kecepatan.   Untuk skuter dan sepeda listrik, ditentukan batas kecepatan 25 kilometer bohlam jam, sementara otoped, unicycle   dan hoverboard 6 km per jam. Pengguna pula harus mengenakan helm, dan tidak boleh ada pembonceng kecuali tersedia tempat duduknya.

“Kendaraan listrik boleh disewakan. Namun, penyewanya harus mematikan kepatuhan terhadap peraturan ini, baik dari segi logistik tempat dan penerapan keselamatan yang telah ditentukan, ” tuturnya.

Co-founder lembaga kajian Transport for Jakarta,   Adriansyah Yasin Sulaeman menyambut baik lahirnya susunan ini. Menurutnya, sepeda dan skuter listrik bisa menjadi kendaraan menuju titik transportasi pertama dari rumahnya, serta kendaraan terakhir dari tumpuan transportasi ke rumah.  

“Banyak pemakai transportasi umum yang masih bergantung kepada sepeda motor sebagai moda first and last-mile   untuk menuju ke stasiun. Roda dan skuter listrik dapat menjelma opsi yang lebih ramah dunia, dan bisa disewakan oleh karakter usaha, ” ungkap  Adriansyah.  

Adriansyah  mengaku aman, akhirnya ada kejelasan regulasi menerjang kendaraan listrik tertentu ini, jadi ada pijakan jelas untuk menanggapi masalah yang ada.  

“Kini pengguna sepeda dan skuter listrik telah dipayungi oleh Undang-Undang. Yang penting,   ke depannya mengedukasi pengguna kendaraan elektrik untuk tertib di jalan, beserta mengedukasi pengguna kendaraan bermotor lain agar memberikan prioritas kepada pemobilitas aktif; termasuk pengguna sepeda serta skuter listrik, ” jelasnya.