Modifikasi Mobil Ternyata Perlu Lapor Zaman ke Asuransi, Buat Apa Sih?

VIVA – Tak semua pemilik, lega dengan kondisi dan spesifikasi mobil standar pabrikan. Untuk mengatasinya, mutasi pun dilakukan, baik yang cuma sekadar mendandani hingga dalam kategori ekstrem.

Modifikasi Mobil Ternyata Perlu Lapor Zaman ke Asuransi, Buat Apa Sih?

VIVA   –  Tak semua pemilik, tenang dengan kondisi dan spesifikasi mobil standar pabrikan. Untuk mengatasinya, modifikasi pun dilakukan, baik yang cuma sekadar mendandani hingga dalam bagian ekstrem.

Saat membatalkan untuk melakukan modifikasi di eksterior, kabin, maupun mesin, pemilik disarankan untuk mempertimbangkannya dengan matang. Makin, jika menyangkut perubahan komponen penopang yang berkaitan dengan kenyamanan & keselamatan berkendara.

Tidak hanya itu, modifikasi kendaraan ternyata berpengaruh besar terhadap asuransi dengan dipasang pada mobil tersebut. Sungguh, pemilik mobil disarankan untuk berkomunikasi dengan perusahaan asuransi yang dipilih, saat melakukan modifikasi pada kendaraannya.

“Ini dilakukan agar pihak asuransi mengetahui lebih awal apakah penambahan suplemen pada mobil dapat meningkatkan profil risiko atau tidak pada instrumen, ” demikian seperti tertulis di dalam keterangan resmi Asuransi Astra, dikutip VIVA , Selasa 9 Juni 2020.

Baca juga:   Mobil Ferrari Berusia 17 Tahun Dilelang, Harganya Bikin Kaget

Secara melakukan konsultasi kepada pihak asuransi, pemilik tidak akan kesulitan zaman hendak mengajukan klaim kendaraannya. Pokok, modifikasi yang dilakukan telah sesuai dengan semua data yang tercatat oleh pihak asuransi.

Melaporkan mobil yang dimodifikasi kepada pihak asuransi, ternyata merujuk pada Polis Standar Asuransi Kendaraan Bermotor Indonesia (PSAKBI), Pasal 8 tentang Perubahan Risiko ayat satu (1) dan dua (2), pemilik harus memberitahukan kepada Penjamin (pihak ke-3 atau asuransi) di setiap keadaan yang memperbesar risiko dengan dijamin.

Dengan demikian, asuransi sebagai penanggung kendaraan mampu memutuskan premi yang dibayarkan sebati dengan yang sudah ada, ataupun bisa menjadi lebih tinggi. Bahkan, asuransi bisa pertanggungan dengan pengembalian premi sebagaimana diatur pada Pasal 27 ayat (2).